Laman

Powered by Blogger.

Latest Post

Lazada Indonesia

Situs Tawarkan Beasiswa Kuliah Bersyarat Seks

Jakarta - Situs SponsorAScholar.co.uk menawarkan beasiswa kuliah khusus mahasiswi sebesar Rp 230 juta per tahun. Syaratnya, mereka harus bersedia tidur dengan klien pengelola situs tersebut.

Pengelola situs mengklaim sudah "membantu" biaya kuliah sekitar 1.400 perempuan berusia 17-24 tahun. Mereka rata-rata disuruh tidur dengan pengusaha kaya petualang seks.

Kepada wartawan investigasi harian The Independent yang menyamar, pria pengelola situs mengharuskan para perempuan terlebih dulu ujian berhubungan intim dengannya. Diduga kuat iming-iming dan ujian seleksi itu hanya akal-akalan pengelola situs buat meniduri perempuan.

Situs ini tak dijerat hukum karena Inggris tak mengharamkan agen yang hanya mengenalkan klien dengan pekerja seks. "Situs ini sepertinya mengeksploitasi mahasiswi yang sedang kesulitan keuangan," kata pengurus Asosiasi Mahasiswa Nasional Inggris (NUS), Kelley Temple.
Sumber: detik.com
Powered by Telkomsel BlackBerry®

The Building of PT. OKI Pulp and Paper Mills; Threat to the Indonesian Forest and the People’s Safety.

South Sumatra has 3.7 million hectares of forest, and right now, the part in good condition is only approximately 800 thousand hectares. One of the Forest Damages is caused by the development of Industrial Plant Forest (HTI). Based on the data of South Sumatra Forestry Service in 2012, the width of HTI in South Sumatra is 1,375,312 hectares that is controlled by 19 Companies. From which, only 944,205 hectares are effective for the primary plant.

Apart from the previously mentioned issue, this year, the Government of South Sumatra is planning to build 2 Pulp and Paper Mills Factories in Musi Banyuasin Regency and Ogan Komering Ilir Regency.

One of the factories that will be built is PT. OKI PULP and PAPER MILLS, which is a company with 100 percent foreign capital (The letter of BKPM No 361/1/IP/PMA/2012 concerning the license of Capital Investment Principle of PT.OKI Pulp and Paper Mills). According to the plan, it will be built in Jadi Mulya Village, Air Sugihan District, Ogan Komering Ilir Regency with the width reaching 2,800 hectares, 200 hectares of which is for the harbor.

In the document of Environmental Impact Analysis (AMDAL), which is being discussed and will be stipulated by Amdal Commission of South Sumatra Province, it is said that this Pulp Mills management factory will produce pulp as much as 2,000,000 ton/year, with the need of raw material reaching at least 8.6 million tons/year.

The huge need of timber supply based on our analysis will not be able to be met by HTI around the factory, owned by Sinar Mas, including by 7 companies owned by SINAR MAS Group in South Sumatra (MUBA, OKI, and Banyuasin) with the width reaching 787,955 hectares. The assumption is only 40 % or 472,773 hectares of the land is productive to be planted by acacia. According to the calculation that we did, for the need of 8.6 million of timber/year, this factory needs 2,064,000 ha of land.[1]

The impact will be license expansion of HTI massively and the damage of the remaining South Sumatra Natural Forest. There is a chance that this expansion will spread to another provinces, which actually also experienced lack of timber supply to meet their factory need, for example in Riau Province with the condition of HTI, which is wider from South Sumatra, the Pulp and Paper Factory of PT. IKPP (sinar Mas group) and PT. RAPP (APRIL Group) with the capacity of 2,000,000 tons/year still need timber supply that they obtain timber supply from Riau natural forest.

On the other hand, the building of this factory is also forecasted to increase agrarian conflict in South Sumatra, which continually experiences an increase each year. While in fact, until now, the building of HTI by the subsidiary of Sinar Mas Group is never free of conflict between the society and the company, similar to the land conflict between the society of Riding Village vs. PT. Bumi Mekar Hijau concerning 10,000 hectares of land, the society conflict of Gajah Mati Village vs. PT. Bumi Mekar Hijau concerning 4,000 hectares of land, the society conflict of Gajah Mati Village vs. PT. Bumi Persada Permai concerning 500 hectares of land. Apart from the agrarian conflict between the society and the company, there is also the case of the natural forest destruction of Merang Kepayang by PT. Rimba Hutani Mas (RHM), which is situated in Musi Banyuasin. Until now, it is still voiced by Walhi Sumsel and WBH Palembang.

Based on some things that we have elaborated previously, we, from the Coalition of Civil Society for Forest Rescue and People's Safety stated to the government of South Sumatra and OKI Regency to:

Stop the building of PT. OKI Pulp and Paper Mills in Ogan Komering Ilir Regency and the Pulp and Paper Mills in the other Regencies in South Sumatra Province. The reason is that it will threaten the preservation of the forest and the safety of the society, especially in South Sumatra.
Stop the expansion of HTI license in South Sumatera, because it has contributed to the Damage of the Natural Forest in South Sumatra.


Palembang, November 2012
THE COALITION OF THE CIVIL SOCIETY FOR FOREST RESCUE AND PEOPLE'S SAFETY
Dto,

(Walhi Sumsel, Wahana Bumi Hijau(WBH) Sumsel, Sarekat Hijau Indonesia (SHI) Sumsel, CAPPA, TI-I, Mahasiswa Hijau Indonesia)


Contact Person:
Anwar Sadat Walhi Sumsel       : 0812 785 5725
Deddy Permana WBH Sumsel : 0812 783 5776
Umi Yayasan CAPPA Jambi : 085266079341


[1] If 1 tons of pulp needs 4.5 m cubic of timber, to fulfill 2,000,000 tons of pulp each year, 9,000,000 cubic of timber is needed. The company calculated 8,600,000 meter cubic. If 1 hectare of land produces 25 cubic of timber, to obtain 8,600,000 cubic of raw material, 344,000 ha land/year is needed, which means it has to be cut down/harvested. With the cycle of acacia that reach 6 years, to guarantee that the company does not lack the raw material, a minimum of 344,000 ha x 6 years = 2,064,000 ha of land has to be available.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Aliran Cuci Uang Nasabah Antaboga

Jakarta - Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Tipid Eksus) Bareskrim Polri melimpahkan berkas dan tersangka kasus penilapan dana nasabah Antaboga terkait kasus Bank Century ke Kejaksaan Agung Ke mana saja uang Rp 342 miliar yang diselewengkan Robert Tantular Cs itu mengalir?

Kasubdit Dit Tipid Eksus Kombes Agung Setya merinci bagaimana uang milik nasabah Antaboga sebesar Rp342 miliar yang disetor ke Bank Century diselewengkan Robert Tantular. Robert sendiri sudah divonis 9 tahun untuk kasus panyalahgunaan dana bailout Bank Century.

"Dari pencucian uang pertama ini diketahui dana Rp342 miliar ditempatkan di PT GNU (Graha Nusa Utama) sebesar Rp 127 miliar," kata Agung usai mengantar tiga tersangka kasus bersangkutan ke Kejagung, di Bareskrim Mabes Polri, Jumat (30/11/2012).

Dana tersebut kemudian ditransfer pada layering ke dua oleh Robert Tantular. Dana tersebut selanjutnya ditransfer ke pihak lain, seperti Johanes Sarwono, Stevanus Farok, dan Umar Muchsin.

"Di GNU yang sudah menerima uang itu, dananya ditransfer ke pihak-pihak lain. Di dalam hal ini dalam upaya untuk mencuci uang itu," papar Agung.

GNU, tegas Agung, merupakan perusahaan fiktif yang tidak memiliki alamat dan karyawan, serta tidak memiliki aset. Agung menyebut, para tersangka sengaja membuat perusahaan fiktif tersebut untuk kegiatan pencucian uang.

Dia menambahkan, dalam layering dua dan empaty, tiga tersangka tersebut membantu mengembalikan Rp 68 miliar ke Robert Tantular dari Rp 127 miliar secara bertahap.

"Yang Rp68 miliar dikembalikan ke Robert secara bertahap berarti mencuci uang secara bersama," jelas Agung.

Tiga tersangka itu dengan bendera yang mendompleng bendera PT Nusa Utama Sentosa (NUS) pimpinan Toto Kuncoro membeli aset resmi Yayasan Fatmawati senilai Rp2 0 miliar. Audit BPK terhadap pembelian aset yang sah itu menunjukan indikasi asal muasal dana.

"Audit ke dua disebutkan bahwa aliran dana ke GNU dan kita telusuri kita ketahui ada aliran dana untuk membeli aset Rp 20 miliar itu," jelasnya.

Pembelian aset itu, jelas Agung, seakan-akan mereka membeli aset secara resmi, padahal uang yang digunakan adalah uang yang diambil dari nasabah Antaboga. Sisa uang yang tersisa setelah dikembalikan ke Robert Tantular dan dibelikan aset Yayasan Fatmawati, dibagi ke tiga tersangka.

"Sarwono Rp 40,9 miliar, kemudian Stevanus Rp 7 miliar sekian, dan yang Muchsin Rp 2 miliar sekian," paparnya.

Lalu, bagaimana sisa dari Rp 324 miliar tersebut?

"Itu akan kita telusuri dari Robert karena dia yang kuasai. Sebab yang dialirkan cuma Rp 127 miliar," papar Agung.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

WNI Borong Tiket Indonesia vs Malaysia

Jakarta - Laga antara Indonesia versus Malaysia baru akan digelar Sabtu (1/120 besok. Namun tiket pertandingan terakhir grup B tersebut telah diserbu pendukung Timnas yang dijual di KBRI di Kuala Lumpur.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

SOS Palestina-ACT Siapkan Obat untuk Gaza

Kairo - base camp sementara Tim SOS Palestina-ACT sejak tiba di Kairo dua hari lalu, makin kondusif untuk meningkatkan aliran bantuan kemanusiaan ke Gaza. Tim ini telah membeli obat-obatan yang akan disalurkan melalui Rumah Sakit As-Syifaa di Gaza City.

Sabtu, 24/11 tim SOS Palestina-ACT telah membeli obat-obatan untuk warga Gaza. Obat-obatan akan disalurkan melalui Rumah Sakit As-Syifaa di Gaza City ini, wujud bantuan awal pada November ini. "Para dokter di Gaza yang merekomendasikan jenis obatnya. Antara lain obat-obatan untuk keperluan operasi seperti obat-obat anastasiologi, antibiotik, cairan infus. Pengiriman obat-obatan lainnya, mencapai ratusan item," jelas Doddy Hidayat, Ketua Tim SOS Palestina-ACT.

Doddy mengatakan, ia memperoleh dukungan selama proses belanja bantuan obat. "Pemilik toko obat tempat saya belanja, bersimpati kepada Palestina. Saat tahu kami akan menyalurkan untuk masyarakat Gaza, direktur apotik segera menghubungi pemilik apotik yang langsung memberikan harga pokok saja kepada kita, tidak mengambil untung," ungkap Doddy.

Pemilik apotik mengatakan, apa yang dilakukannya, wujud membantu perjuangan Palestina. Selain itu, pihak apotik membantu memilihkan item-item obat-obatan yang memang menjadi prioritas bagi keperluan operasi para korban di Gaza." Kami juga mendapat bantuan kendaraan untk membawa obat-obatan sampai Rafah," jelas Doddy.

Tim SOS Palestine ACT akan mengerahkan relawan lokal, mahasiswa Indonesia di Kairo untuk membantu pengepakan obat-obatan itu. Doddy menjelaskan, selama di Kairo, beberapa agenda terlaksana. Antara lain koordinasi dengan Dubes RI untuk Mesir. Selain obat-obatan yang disiapkan di Kairo, dana lainnya akan digunakan untuk membeli selimut, bahan makanan, dan lain-lain di kota Gaza, kata Doddy.
Powered by Telkomsel BlackBerry®
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Kabar Palembang - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger